Nothing Imposible

Jumat, 26 Februari 2010

Jenis-jenis Penggunaan Agama oleh Manusia

Agama adalah ajaran moral yang berfungsi sebagai bimbingan dan pedoman manusia untuk keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Semua manusia penganut agama pada dasarnya mengetahui fungsi agama ini buat dirinya. Tetapi pada kenyataannya, manusia berbeda-beda dalam menggunakan agamanya. Ada yang menggunakan agama sebagai identitas saja, ada yang menjadikannya sebagai kajian keilmuan saja, ada yang menggunakannya sebagai alat untuk mencapai tujuan atau mendapatkan keuntungan, ada yang menggunakannya benar-benar sebagai jalan hidupnya, dan seterusnya. Di bawah ini ada lima jenis manusia yang berbeda-beda dalam menggunakan agamanya dalam kehidupannya sehari-hari.



1. Agama sebagai Alat
Yaitu sekelompok manusia yang baginya agama sebagai alat untuk mencapai tujuan, untuk mencapai kepentingan dirinya. Misalnya, agama digunakan dalam kampanye dalam kegiatan politik, untuk meraih simpati, sementara akhlaknya jauh dari ajaran agama. Ada juga agama digunakan untuk meraih posisi dan kedudukan. Ia menggunakan dalil-dalil agama untuk tujuan pribadinya dengan menunjukkan dirinya seolah sebagai seorang ahli agama dengan tujuan diberi sebuah kedudukan. Dari kedudukannya sebagai ahli agama (“ustadz,” “ulama”) ia berusaha mendapatkan keuntungan pribadi yang banyak (material, posisi, jabatan). Misalnya lagi, kedudukannya sebagai “ulama,” atau ketua organisasi Islam, atau mewakili kelompok komunitas Islam, membuatnya terpakai di mana-mana, tetapi kehidupannya sendiri sesungguhnya tidak sejalan dengan akhlak agama. Seorang mubaligh yang makmur, yang dibayar tinggi dari ceramah-ceramahnya, tetapi teman-temannya, tetangganya mencibir akhlaknya sehari-hari. Ini adalah termasuk menjadikan agama sebagai alat.



2. Agama sebagai Pencatat
Disini agama hanya dicatat-catat saja dalam pikiran, dalam ingatan, untuk dikeluarkan pada suatu saat, sehingga orang menganggap hebat dan kagum. Disini termasuk masuk para muballigh, penulis, ilmuwan agama, intelektual agama, cendikiawan Muslim dan seterusnya, yang pengetahuan agamanya tidak terefleksikan dalam kehidupan akhlaknya sehari-hari. Muballigh dan penceramah hafal betul dalil-dalil agama, ia mencatatnya dalam fikiran, pengetahuan agama luas, terlihat hebat ketika sedang ceramah dan menyampaikan pengetahuannya kepada masyarakat tetapi, tetapi akhlaknya tidak sesuai dengan yang diucapkannya. Bagi golongan ini, agama hanya sejumlah catatan saja, sebagai ilmu saja. Hidupnya sendiri rudet, ruwet dan banyak masalah sebagai ciri agama tidak menjadi akhlak dan jiwanya. Ia diakui hebat ilmunya, luas pengetahuannya, tapi ternyata jiwa keropos, rapuh dan jauh dari kedamaian jiwa dan ketenangan hidup.



3. Agama sebagai Pemikat
Agama dijadikan hanya sebagai pemikat saja, sebagai daya tarik. Misalnya, Islam dijadikan asas partai, dasar organisasi atau identitas kelompok dll tetapi ruh Islamnya sendiri tidak hidup didalamnya. Akibatnya, tidak sesuai antara yang diasaskan, dilabelkan, dibicarakan, dengan kenyataan. Mayarakat tertarik pada tema atau misi Islam yang diperjuangkan sebuah ormas Islam atau partai Islam, tapi bila ia hanya pengikat saja, para aktifisnya jauh dari ruh Islam, sikapnya jauh dari akhlak agama, maka itu adalah golongan yang menjadikan agama sebagai pengikat saja.



4. Agama sebagai Nasehat
Lebih baik dari yang tiga di atas adalah agama sebagai nasihat. Kelompok ini menjadikan agama sebagai pembimbing hidupnya, sebagai kontrol perilaku dan akhlaknya sehari-hari agar menjadi muslim yang baik dan mulia. Menjadikan agama sebagai nasihat. Ciri yang menjadikan agama sebagai nasihat, adalah senang menerima nasihat, tidak marah dinasihati oleh siapa saja, hatinya hidup dan siap mendengarkan nasihat. Senang mendengarkan dan menerima nasihat berarti telah menjalankan fungsi utama agama karena inti agama sendiri adalah nasehat. Rasulullah s.a.w SAW mengatakan: “Ad-dinu nasihah!” (agama itu nasehat!). Maka, barangsiapa yang suka mendengarkan nasehat sesungguhnya ia telah mengamalkan diantara inti agama itu sendiri. Seorang Muslim yang menjadikan agamanya sebagai nasihat (bukan hanya pencatat dan pemikat), Insya Allah hatinya hidup dan bercahaya. Banyak orang, mengaku beragama tetapi kehidupannya jauh dari agama yang dianutnya, karena menjadikan agama hanya sebagai alat, pencatat (pikiran, ilmu) dan pemikat. Hidupnya sendiri tidak tentram, mudah stress, labil, hatinya kering dan jiwanya gersang. Seorang Muslim yang tidak senang mendengarkan nasihat adalah seorang yang hatinya sakit. Hati yang sakit, menurut seorang sufi besar, Dzunnun al-Misri, cirinya ada empat: (1) Tidak merasakan kenyamanan dalam beribadah, (2) Tidak merasa takut kepada Allah, (3) Tidak pernah memperhatikan nasehat, dan (4) susah memahami pengetahuan yang diajarkan kepadanya.
Hati-hatilah, bila diantara empat ciri ini ada dalam diri kita. Hati-hatilah, bila kita sering beribadah tetapi perasaan tidak pernah merasa nyaman, tidak nikmat, tidak merasakan ketenangan, biasa-biasa saja. Atau, hati-hatilah bila kita sulit menerima ilmu, susah dan lambat mengerti. Seperti dikatakan Dzunnun, mungkin karena hati kita sakit. Perlu banyak istighfar dan mendengarkan nasihat, agar hati cerah dan sehat kembali. Agar hidup jadi tenang, agar mudah menerima ilmu dan kebenaran.



5. Agama sebagai Tarekat
Ini adalah memfungsikan agama dalam levelnya yang tertinggi yaitu menjadikannya sebagai jalan kehidupan (thariqah). Dia berusaha menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dan akhlaknya sehari-hari dalam setiap langkah dan keputusannya, dalam setiap nafasnya, agama menjadi darah dagingnya, menjadi geraknya, menjadi kenikmatannya. Tidak ada tindakan yang terlepas dari dasar agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar